SCM player skins Saya Mau Naik Haji dgn Mama' – Keke's 1st spot to visit
 

Saya Mau Naik Haji dgn Mama’

NIKE ARDILLA DALAM KENANGAN ;
‘Saya Mau Naik Haji dengan Mama’

RATUSAN orang tumplek di Gedung Pasundan Plaza, Bandung, suatu malam pada
akhir 1986, saat Festival Lagu Tiga Warna se-Jawa Barat, digelar. Ditengah
lalu-lalangnya pengujung (dan belasan pasangan remaja), didepan saya, seorang
lelaki berusia sekitar 40 tahun berdiri, sambil membimbing seorang gadis
berusia sekitar 11 tahun. Gadis berkulit putih dan berambut panjang itu,
terlihat erat memegang tangan ayahnya. Dia manja betul, nampaknya.

Sebagai wartawan pemula, yang berposko di Bandung, saya pun “tertarik” untuk
mendekati Nike atau Hari Mukti yang juga berada disana. Sama dengan Nike,
Hari pun belum dikenal publik musik waktu itu. Barangkali baru sebatas Bandung
sekitarnya. Diam-diam saya tatap gadis yang baru beranjak remaja itu, dan
saya mendekatinya sambil berkatanya: “Kapan rekaman?” Dia tak langsung menjawab.
Sambil melirik ayahnya, Nike angkat bicara: “Nggak tahu ya” Dan ia pun tersipu
malu sambil memegangi tangan ayahnya. Nike bersembunya dibalik punggung ayahnya.
Saya maklum, dan saya pun berlalu, dan masuk gedung.

Sebagai wartawan, saya saat itu memang hendak mencari Nicky Astria, yang
saat itu sedang melambung dengan tembangnya “Jarum Neraka”. Sorenya, saat
saya datang kerumah Nicky di Jl.Parakan 16/C, Buah Batu-Bandung.

Jadi kali ini bisa diibaratkan ‘reuni’ saja, di samping tujuan saya hendak
menyerahkan satu eksemplar Singgalang edisi Minggu, hasil wawancara
dengan Nicky Astria, juga ingin menanyakan tentang shownya di Padang yang
diundang DKRP (Depot Kreativitas Remaja Padang), pimpinan Desi Daud.

Sesampai didalam gedung, saya lihat Nike Ardilla duduk di deret bangku depan
bersama ayahya Eddy Kusnadi pegawai Perumka (PJKA) Bandung. Saya, sama dengan
pengunjung lainnya, lebih banyak memperhatikan “lagak dan gaya” Nicky Astria,
dibanding “keluguan” Nike Ardilla. *mereka nggak tahu bahwa disini nih, calon bintang BESAR! 😀
Setelah selesai “silaturahmi” dengan Nicky, dan menyerahkan koran Singgalang,
saya pun berlalu dan kembali ke tempat duduk semula. Sebelumnya, Nicky menawarkan
pulang dengan rombongannya. Saya tak menolak. Dan, tak lama saya lihat, gadis
kecil berambut panjang yang bernama Nike tadi sedang berdendang. Ya, Nike
sedang bernyanyi. Tapi saya lupa lagu apa yang dinyanyikannya.

Usai acara, termasuk pengunjung, langsung menyambung dengan disco time.
Tak terkecuali Nicky Astria. Sedangkan, pada saat itu saya tak lagi melihat
Nike Ardilla. Mungkin gadis ini sudah pulang dengan ayahnya.

Jika tiga tahun kemudian…, saya mendengar lagu “Seberkas Sinar” dan
“Bintang Kehidupan” yang begitu hits, dan digemari anak muda, saya
nyaris pula, jika yang menyanyikan lagu itu adalah gadis kecil yang pernah
saya temui di Gedung Pasundan Plaza. Pedendang lagu itu memang Nike Ratnadilla, yang populer dengan nama Nike Ardilla.

Sejalan dengan menaiknya grafik ketenaran nama Nike, saya pun “didaulat”
kawan-kawan di Padang, (kawan-kawan di Nolan Miller Entertainment sebuah
grup showmbiz) untuk memboyongnya ke Padang dalam suatu show musik
di bulan Maret 1990.

Sekali merengkuh dayung, dua pulau terlalui, pepatah itu berlaku dalam pertemuan
saya dengan Nike Ardilla. Dapat tugas dari kantor mewawancarai Nike, saya
menemui artis ini, sekalian untuk “mengajak”nya show ke Padang.
Artinya, tak hanya untuk porsi berita, tujuan saya juga hendak memboyongnya
untuk show “Pentas Musik ’90” bersama rocker Hari Moekti.

Sesampai di Bandung, tak sulit mencari rumah Nike yang terletak di Jl. Parakan
Saat I/37, Bandung. Dari jalan besar, saya masuk gang. Dan didepan mulut
gang itu, tukang becak dengan logat Sunda kental bertanya sambil menawarkan
becak: “Mau kemana den?” saya jawab ke rumah Nike Ardilla. Tukang becak tersenyum
dan manggut-manggut sambil menyuruh saya naik.

Hanya lima menit, sebuah rumah semi permanen, terlihat. Diteras depannya,
sejumlah anak kecil asyik bermain. Salah seorang dari mereka saya panggil
dan saya menanyakan Nike. “Teteh (kakak) Nike ada nggak?”.

Belum sempat menjawab, gadis kecil itu berlari masuk kedalam, dan berteriak.
“Teh-teh, ada yang nyari”.

Dan gadis kecil bertubuh bongsor yang saat itu sudah kelas satu di SMA BPI
(Balai Pendidikan Islam) Bandung itu keluar dan sambil tersenyum ia bertanya.
Sebelum sempat dia melanjutkan keheranannya, saya langsung menyalami sambil
memperkenalkan diri. “Silahkan masuk mas,” ujarnya ramah dan menyuruh saya
duduk.

Mengenakan celana panjang selutut dengan tubuh dibalut T-shirt, berwarna
putih, penampilan Nike masih terkesan anak-anak. Sebelum tanya jawab terjadi,
gadis ini permisi hendak mengambil air minum. “Sebentar ya mas,” katanya
ceria. Saya pun mengangguk. Diruang tamunya, saya lihat foto Nike dalam ukuran
besar, terpajang di dinding. Tak ada kesan wah dari rumah Nike. Saya melihat
kondisi rumah artis ini sederhana saja.

Tak lama, Nike keluar dan kembali menemui saya. Untuk mengakrabkan suasana,
saya ingatkan kembali tentang pertemuan saya dengannya di akhir tahun 1986.
“Wah, saya lupa tuh,” ujarnya tertawa, tapi sambil memainkan bola matanya
(seperti berpikir serius) dia berkata. “Oh iya, saya ingat! Maklumlah, udah
tua,” ujarnya sambil terpingkal-pingkal.

Menurutnya, semua keberhasilannya itu tak bisa dilepaskan dari peran serta
ayah dan ibunya. “Tanpa beliau, saya tak ada apa-apanya,” ujar Nike.
Malah, dia berencana kalau punya uang banyak nanti, akan membawa ibunya naik
haji ke Mekkah. “Saya ingin naik haji dengan mama,” katanya. Ketika mengungkapkan
hal ini, mimik Nike terlihat serius.

Dan matanya yang agak sayu itu menggambarkan, ketulusan tekad gadis ini.
Dia pun mengungkapkan obsesinya hendak menyantuni anak yatim dan orang- orang
tak mampu. “Saya ingin punya panti asuhan” katanya.

Saat bicara itu ibunya muncul (entah dari mana), dan Nike memperkenalkan
saya dengan wanita bernama Nining Ningsihrat itu. “Ini mama saya Mas”, ujarnya sambil memeluk hangat ibunya.
“Nike memang masih kolokan,” kata ibunya dan menambahkan: “Badannya aja bongsor.
Manjanya minta ampun,” kata Nining.

Nike yang akrab dipanggil Keke ini pura-pura gondok, dan tertawa.
“Jangan buka kartu mah, nanti dimasukin koran sama Mas ini,” katanya tertawa
sambil menunjuk saya sedang asyik menuliskan percakapan itu. Ibunya pun tertawa
dan kemudian permisi masuk ke ruang tengah.

Berbagai pertanyaan saya ajukan pada Nike. Dia menjawab dengan lugas, tanpa
dibuat-buat apalagi ditutup-tutupi. Bila ia tak bisa menjawab pertanyaan
yang saya ajukan, dia bertanya balik pada saya. “Bagusnya jawabnya apa ya
Mas?” katanya 😀

Ha? Saya jadi bingung sendiri. Memang lugu anak ini, pikir saya.

Dia juga mengungkapkan tentang sekolahnya yang sering “tinggal” bila ia rekaman
dan show. Tapi katanya, guru2 nya di SMA BPI, sering memberi dispensasi
untuk show ke luar daerah. * tunggu artikel selanjutnya ‘Kenangan
Guru-guru Nike Ardilla’
“Tapi kalau terus begitu saya bisa juga
tak naik kelas nanti.” Nike menjawab sendiri kalimatnya. Dia menyebutkan,
kesempatan itu datang kali, makanya ia memanfaatkan sebaik-baiknya.
“Mumpung ada kesempatan,” ujarnya.

Ditanya pacar, ia tertawa.
“Belum punya” jawabnya dan mengatakan, ia ingin lelaki seperti ayahnya yang
baik dan bertanggung jawab. “Tapi saya nggak pernah mikirin itu. Sekarang
saatnya kerja keras. Bukan untuk mikirin cowok,” katanya.
Wawancara pun selesai.

Saat surat perjanjian saya disodorkan, untuk show di Padang, Nike
tak keberatan. Tapi, ia minta jadwal shownya itu diubah.
“Saya pada waktu itu juga ada acara di Jakarta,” katanya. Saya Oke.
Tapi entah kenapa saya lupa membawa materai, untuk mempertegas kesepakatan
dengan Nike Ardilla.

“Nike punya materai, nggak?” tanya saya. Dia menjawab “Oh gampang, biar saya
suruh beli sama anak-anak diluar itu,” katanya seraya ke luar rumah memanggil
salah seorang anak kecil yang main di teras depan rumahnya. Sebelumnya saya
menyodorkan uang Rp.1.500 untuk membeli materai itu.
Tapi, tidak tanggung-tanggung kaget saya, saat Nike menyodorkan tiga buah
baterai merek ABC kepada saya “Ini mas baterainya” ujar Nike sambil menyodorkan
baterai.

“Lho!, bukan ini. Maksud saya meterai,” kata saya. Nike pun tak kuasa menahan
tawanya. Tubuhnya yang bongsor itu terpingkal menahan tawa.
Lucu mungkin. “Saya kira baterai,” katanya malu :”> ,dan ia menyambung.
“Nggak usahlah pakai-pakai materai, pokoknya kalau diundang ke Padang saya
pasti datang asal jadwalnya cocok,” katanya. Iya deh.

Ada dua jam saya dirumah artis ini. Saya pun kemudian minta permisi. Saya
hendak ke rumah artis Yossie Lucky, di Banyu Biru. Kepada Nike tak saya katakan
bahwa saya akan ke rumah Yossie Lucky. Saat Nike menawarkan hendak ke Terminal
Kebun Kelapa, makanya saya menolak. Soalnya tujuan saya bukan ke terminal,
tapi ke rumah Yossie Lucky.

Setengah jam kemudian saya sampai dirumah Yossie Lucky. Gadis ini pun tak
meolak ditawari show ke Padang. Kata saya, Yossie berpasangan dengan
Harri Moekti. Nama Nike tak saya sebut-sebut saat itu. Saya tidak mengatakan
kalau saya telah berjumpa Nike Ardilla. Soalnya, pada saat itu “persaingan” dijalur musik antara Nike, Yossie, Mel Shandy, dan Anggun C.Sasmi
sangat “ketat”.

Jadi kalau nama “rival”nya disebut-sebut dan diundang dalam waktu bersamaan,
banyak dari artis muda ini kurang “bersemangat” dan suka “menaikkan” tarif shownya.
Kalau kita katakan hanya dia saja yang diundang, umumnya artis remaja ini
bangga dan mau dengan “tarif” umum.

Saat Yossie dengan adiknya Yana menawarkan mengantar saya dengan mobil Carry-nya
ke Terminal Kebun Kelapa, saya tak menolak. Karena saya memang hendak balik
ke Jakarta. Tapi Yossie bukannya langsung ke terminal, malah membawa saya
ke sebuah gedung kesenian di Bandung. “Kita singgah sebentar Da, saya hendak
minta izin,” kata Yossie. Beda dengan Nike, Yossie memanggil saya dengan
sebutan “Uda”, karena ia tahu saya dari Padang.

Sore itu Yossie yang teman satu sekolah Nike di SMA BPI ini hendak latihan
nyanyi dengan beberapa artis Bandung lainnya. Saya lupa acara untuk apa.

“Nanti Uda saya kenalkan dengan Nike Ardilla,” katanya. Astaga! saya kaget.
Kartu saya bisa terbuka. “Janganlah Sie, saya di mobil saja, badan saya tak
enak,” saya memberi alasan. Yossie maklum, dan ia masuk gedung itu. Tak sampai
lima menit, ia keluar dan dan membawa saya ke terminal.

Akhirnya, saya memang gagal membawa Nike ke Padang. Karna pada hari itu,
(saat show digelar di Imam Bonjol Padang) gadis kelahiran 27 Desember
1975 ini, juga sedang ada show pula di Jakarta.
Jadinya yang mengisi acara “Pentas Musik 90”, Nolan Entertaiment,
Yossie Lucky dan Harri Moekti.

Toh demikian, kiprah Nike tetap saya ikuti, termasuk langkahnya ke dunia
sinetron dan film. Saya yakin, suatu saat gadis ini akan jadi artis besar,
karena ia punya kemauan dan kemampuannya yang tinggi. Disamping itu, orang
tuanya pun pintar membimbing anaknya.

Saya kaget, dan tak percaya.
Hari Minggu (19/3/95), Nike meninggal dunia akibat mobil Genio Civic yang
dikemudikannya menabrak trotoar di JL. Riau (RE.Martadinata), Bandung.
Nike tewas dengan luka parah dibagian kepala dan dadanya. Di usianya yang
ke-20, anak kedua dari tiga bersaudara ini (satu-satunya wanita) menghembuskan
nafas terakhirnya di tempat kejadian.
Selamat Jalan Nike…

Sumber : Koran Singgalang, Padang.
Artikel sumbangan dari :Melfa Riza (Bukittinggi)

Categories: Artikel